Genduri Rasul Blok Utara Usung Tema “Cipto, Roso, lan Karso”, Pererat Kebersamaan Empat Padukuhan

RHESTU INAYU 10 Agustus 2026 12:08:25 WIB

Bohol (Sida Samekta), Senin 10 Agustus 2026 Genduri Rasul Blok Utara digelar dengan mengusung tema “Cipto, Roso, lan Karso”. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan, melestarikan tradisi masyarakat, sekaligus memanjatkan doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga.

 

Rasul Blok Utara terdiri atas empat padukuhan, yakni Padukuhan Belang, Wuru, Ngasem Kidul, dan Ngasem Lor. Warga dari keempat padukuhan tersebut turut hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh kebersamaan.

 

Kegiatan genduri diawali dengan pembukaan oleh Ketua Panitia, Bapak Ngatiyo. Dalam pembukaannya, ia mengajak seluruh masyarakat untuk mengikuti kegiatan dengan khidmat serta menjadikan genduri sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.

 

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat bersama-sama memanjatkan doa agar seluruh warga senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta kemudahan dalam mencari rezeki. Harapan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tradisi genduri yang terus dijaga oleh masyarakat.

 

Selain doa bersama, kegiatan Genduri Rasul Blok Utara juga menjadi ruang untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau panjang.

 

Pelaksana Tugas (PLT) Lurah Bohol dalam arahannya mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah secara sembarangan. Kondisi kemarau panjang menyebabkan lingkungan menjadi lebih kering sehingga api berpotensi dengan cepat merambat dan menimbulkan kebakaran.

 

Masyarakat diharapkan dapat lebih berhati-hati dalam mengelola sampah dan menghindari kegiatan pembakaran yang dapat membahayakan lingkungan. Imbauan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran warga untuk bersama-sama menjaga keamanan dan lingkungan di wilayah masing-masing.

 

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Widodo selaku Dewan Budaya dari Kapanewon Rongkop. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Genduri Rasul yang tetap mempertahankan nilai-nilai kebudayaan dan kebersamaan masyarakat.

 

Menurutnya, kegiatan tradisi masyarakat, termasuk genduri maupun pentas seni, merupakan bagian dari upaya menjaga serta mengembangkan kebudayaan lokal. Kegiatan semacam itu juga dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk menampilkan berbagai potensi seni dan budaya yang dimiliki.

 

Bapak Widodo juga menyampaikan bahwa masyarakat dapat mengajukan proposal kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul untuk mendukung berbagai kegiatan kebudayaan. Hal tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan seni, tradisi, maupun kebudayaan di wilayahnya.

 

Adanya dukungan tersebut diharapkan semakin mendorong masyarakat untuk aktif melestarikan kebudayaan. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga mampu memperkuat identitas dan kebersamaan masyarakat.

 

Rangkaian kegiatan kemudian memasuki acara inti, yakni doa genduri yang dipimpin oleh Bapak Ponco. Seluruh warga mengikuti doa bersama dengan penuh khidmat sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Doa tersebut dilaksanakan pada Senin Wage dengan harapan seluruh permohonan masyarakat dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Warga memanjatkan doa agar senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, kemudahan rezeki, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan.

 

Genduri juga dimaknai sebagai simbol sedekah bumi atas hasil yang telah diperoleh masyarakat. Melalui tradisi tersebut, masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus memohon agar hasil dan panen pada tahun-tahun mendatang semakin baik dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

 

Doa secara khusus juga ditujukan bagi masyarakat Padukuhan Belang, Wuru, Ngasem Kidul, dan Ngasem Lor. Warga berharap seluruh masyarakat di empat padukuhan tersebut senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta kehidupan yang penuh keberkahan.

 

Selain kesehatan, masyarakat juga memanjatkan harapan agar memperoleh panen yang melimpah dan keberkahan dalam setiap usaha yang dijalankan. Doa tersebut menjadi wujud harapan agar kehidupan masyarakat semakin sejahtera dan segala usaha yang dilakukan mendapatkan kelancaran.

 

Nilai gotong royong dan kedamaian juga menjadi bagian dari doa bersama. Masyarakat berharap semangat kebersamaan tetap terjaga sehingga setiap persoalan dapat dihadapi secara bersama-sama dan kehidupan sosial di empat padukuhan semakin harmonis.

 

Usai doa, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan tumpengan dan ingkung ayam menjadi bagian dari tradisi yang menyatukan warga dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan.

 

Genduri Rasul Blok Utara dengan tema “Cipto, Roso, lan Karso” pada akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan ritual dan budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan masyarakat. Melalui tradisi, doa, gotong royong, dan kebersamaan, warga Belang, Wuru, Ngasem Kidul, dan Ngasem Lor meneguhkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik, penuh kedamaian, kesehatan, kesejahteraan, serta keberkahan di masa mendatang.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
  • Kampleng
    Makasih infonya,sangat membantu ...baca selengkapnya
    09 Juni 2021 20:17:22 WIB
Galeri Foto
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial